Pada 22 Januari 2026, tweet Clément Molin, analis konflik internasional asal Prancis, menjadi pusat perdebatan panas di platform X. Molin menuding SDF (Syrian Democratic Forces) sebagai penyebab utama kekalahan mereka sendiri di timur laut Suriah karena terlalu serakah.
Menurut Molin, SDF menolak semua kesepakatan integrasi dengan pemerintah Suriah transisi sejak Januari 2025, meski posisi mereka sangat kuat. Mereka menguasai sepertiga wilayah Suriah, tiga provinsi utama, dan tiga perempat cadangan minyak nasional.
Molin menambahkan bahwa 90 persen populasi di wilayah yang dikuasai SDF adalah Arab. Komponen militer Arab di SDF bahkan sempat memberontak terhadap kepemimpinan Kurdi, menimbulkan ketegangan internal.
Selama sepuluh tahun terakhir, kata Molin, SDF didanai dan dipersenjatai oleh komunitas internasional untuk mengimbangi politik regional. Namun, hampir tidak ada rekonstruksi yang dilakukan di wilayah yang mereka kuasai.
Molin juga menyatakan SDF berkolaborasi dengan rezim Assad lama, termasuk melawan oposisi Suriah dan menguasai wilayah secara sepihak, sebelum akhirnya ditinggalkan Washington.
Akibat keserakahan itu, SDF kehilangan hampir seluruh keuntungan strategis. Mereka mundur ke basis belakang, meninggalkan sumur minyak, dan menuduh pemerintah Suriah yang baru ei bawah Presiden Ahmed Al Sharaa ingin melakukan pembersihan etnis.
Molin menekankan, meski SDF berjasa dalam politik regional dan harus dilindungi, kebijakan luar negeri internasional tidak boleh berdasarkan emosi semata. Analisis realistis lebih penting daripada simpati buta terhadap Kurdi.
Tweet Molin dilengkapi peta "Ofensif Timur Laut Suriah 2026" yang menampilkan pergerakan pasukan Pemerintah Transisi Suriah dan Tentara Suriah ke wilayah SDF. Peta ini menunjukkan SDF terdesak dari kota-kota utama hingga perbatasan.
Panah hitam dalam peta menandai serangan ke kota seperti Aleppo, Manbij, Raqqa, dan Deir ez-Zor. Peta ini mendukung narasi Molin bahwa keserakahan SDF menjadi bumerang di medan perang.
Reaksi langsung terhadap tweet Molin bermunculan dari berbagai pihak. Seorang pengguna menolak tuduhan bahwa SDF ingin bergabung dengan "pemerintah teroris", menegaskan ketidakpercayaan terhadap Damaskus.
Debat mengenai hak-hak Kurdi pun muncul. Beberapa pihak mempertanyakan apakah dekrit presiden baru cukup atau perlu konstitusi untuk menjamin otonomi permanen.
Seorang analis kemanusiaan yang pernah bekerja di Hawler dan Al-Hasakah membandingkan tuduhan terhadap Kurdi dengan klaim Israel terhadap Palestina. Menurutnya, Kurdi dimanfaatkan dan kemudian disalahkan atas nasibnya sendiri.
Pendukung Turki menegaskan bahwa SDF sebagai cabang organisasi teroris PKK tidak bisa menguasai sumber daya dan perbatasan sendirian. Negara manapun tidak akan membiarkan monopoli semacam itu.
Seorang warga Kurdi dari Kobani menantang Molin, mempertanyakan wawasan analis Prancis tersebut, dan menegaskan bahwa narasi Damaskus dan Turki tidak mencerminkan realitas Kurdi.
Sebagian pihak menilai analisis Molin naif, terutama soal federalisme. Sindiran “vive le fédéralisme alsacien” digunakan untuk menunjukkan kontradiksi konteks Prancis dengan Suriah.
Beberapa pengguna menuduh SDF sebagai organisasi teroris PKK dan menolak simpati Barat terhadap mereka. Tuduhan ini menambah polarisasi diskusi.
Pengamat lain menilai Molin salah memahami situasi lapangan. Mereka menyebut tweet-nya sebagai "blah blah blah" tanpa pemahaman konteks nyata.
Di sisi lain, ada yang mendukung Molin, berpendapat SDF ingin independensi penuh dan menolak integrasi berulang kali, sehingga menolak kesepakatan dengan Damaskus.
Reaksi pro-Kurdi menegaskan bahwa blokade negosiasi disebabkan Damaskus yang tidak mau memberikan otonomi regional atau mengintegrasikan YPG ke tentara secara utuh.
Sejumlah pengguna menyoroti monopoli sumber daya SDF dan penindasan terhadap warga Arab, memperkuat narasi keserakahan mereka.
Secara keseluruhan, debat ini mencerminkan kompleksitas krisis Suriah pasca-Assad. Isu etnis, sumber daya, dan pengaruh asing terus memicu diskusi sengit di media sosial, memperlihatkan SDF sebagai korban sekaligus penyebab masalahnya sendiri.






Posting Komentar