Top Menu

Dinamika Multi Dimensi Politik Suriah


Meski konflik di Suriah sering disorot terkait ketegangan antara Alawite, Druze, dan PKK, dinamika internal komunitas Arab juga tidak kalah kompleks. Perselisihan antar suku Arab terjadi di berbagai wilayah, termasuk di provinsi Daraa yang mayoritas penduduknya adalah Arab.

Baru-baru ini, sebuah insiden mencuat di kota kecil Ghossam, bagian timur provinsi Daraa. Sebuah video yang beredar menunjukkan terjadinya keributan saat digelar sesi perdamaian antar keluarga yang dikenal berseteru, yaitu keluarga al-Mashakel dan al-Maf’alani.

Menurut laporan wartawan lokal dari Daraa 24, awal konflik dipicu oleh tindakan salah seorang anggota patroli keamanan umum yang memukul seorang anak dari keluarga al-Mashakel. Insiden kecil ini memicu eskalasi yang cepat.

Keributan tersebut kemudian melibatkan anggota keluarga dan warga setempat. Apa yang dimulai sebagai insiden antara seorang anggota keamanan dan seorang anak berkembang menjadi pertengkaran massal di tengah kota.

Insiden ini terjadi di tengah upaya mediasi yang disebut “solh ‘ashairi”, atau perdamaian suku tradisional. Biasanya, proses ini diadakan untuk menengahi perselisihan antar keluarga dan menjaga stabilitas lokal.

Namun, kasus di Ghossam menunjukkan bahwa meskipun prosedur adat diikuti, ketegangan lama dan sentimen pribadi masih dapat memicu konflik baru. Hal ini menjadi peringatan akan rapuhnya perdamaian sosial di wilayah yang sebagian besar Arab.

Perselisihan antar suku atau keluarga Arab di Daraa sering berkaitan dengan masalah lama seperti persaingan tanah, hak irigasi, atau sengketa ekonomi lokal. Faktor-faktor ini tetap hidup meski ada upaya pemerintah dan tokoh adat untuk menengahi.

Kehadiran aparat keamanan atau anggota patroli kadang menjadi pemicu tambahan. Dalam beberapa kasus, tindakan aparat yang dianggap berlebihan dapat memicu konflik baru di tengah masyarakat yang sensitif terhadap otoritas.

Insiden di Ghossam menjadi contoh bagaimana perdamaian suku tradisional bisa terganggu oleh faktor eksternal atau perilaku individu. Meskipun tujuan mediasi adalah meredakan konflik, situasi bisa berubah menjadi kekerasan jika emosi warga tidak terkontrol.

Keributan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga lain. Aktivitas sosial dan ekonomi di tengah kota sempat terganggu, sementara anak-anak dan perempuan menjadi saksi ketegangan yang berkembang cepat.

Tokoh lokal menekankan bahwa kejadian ini bukan sekadar masalah keluarga tunggal. Ia menunjukkan bahwa dinamika internal komunitas Arab, bahkan di wilayah yang secara etnis homogen, tetap rawan konflik.

Media lokal menyoroti insiden ini sebagai simbol kompleksitas sosial internal Arab Suriah. Sementara konflik dengan Alawite, Druze, atau PKK sering menjadi berita internasional, masalah internal Arab justru jarang mendapat sorotan meski berdampak langsung pada stabilitas lokal.

Para pemuka adat di Daraa kini sedang berupaya menengahi keluarga yang berseteru. Mereka menegaskan perlunya penyelesaian melalui musyawarah dan ganti rugi simbolis, sesuai tradisi yang sudah berlangsung lama di wilayah itu.

Upaya ini juga menjadi langkah preventif agar perselisihan tidak menyebar ke desa atau kota lain di provinsi Daraa. Tokoh masyarakat menegaskan bahwa penyelesaian harus cepat agar keamanan warga tetap terjaga.

Sementara itu, aparat keamanan tetap berada di lokasi untuk mengawasi situasi dan mencegah konflik lebih luas. Kehadiran mereka harus seimbang agar tidak dianggap memihak salah satu pihak.

Dinamika internal ini menegaskan bahwa meski mayoritas penduduk Daraa Arab, komunitas tetap memiliki garis-garis persaingan tradisional yang dapat memicu ketegangan sewaktu-waktu.

Insiden Ghossam juga menunjukkan bahwa anak-anak dan generasi muda sering menjadi pemicu atau korban konflik, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini menimbulkan kekhawatiran jangka panjang bagi kohesi sosial.

Sejumlah pengamat lokal menyebut bahwa konflik internal Arab bisa menjadi “konflik mikro” yang tidak kalah berbahaya dibandingkan perang antar kelompok besar. Jika dibiarkan, bisa memicu ketidakstabilan di level provinsi.

Tokoh masyarakat berharap insiden ini menjadi pelajaran bagi seluruh keluarga di Daraa untuk mengedepankan penyelesaian damai dan menahan diri dalam konflik sehari-hari. Mereka menekankan pentingnya menjaga tradisi perdamaian suku yang sudah ada.

Kejadian di Ghossam mengingatkan bahwa stabilitas Suriah tidak hanya ditentukan oleh konflik besar antar faksi atau agama, tetapi juga oleh kemampuan komunitas lokal menyelesaikan perselisihan internal secara damai.

Dengan demikian, provinsi Daraa tetap menjadi wilayah yang kompleks. Meski mayoritas Arab, hubungan sosial internal tetap membutuhkan perhatian, koordinasi, dan kesadaran akan tradisi, agar konflik mikro tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

Share this:

 
Designed By OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates