Sejarah mencatat peran penting pasukan Somalia dari Kesultanan Ajuran dalam menghadapi ancaman Portugis di Laut Merah dan kawasan Arab pada abad ke-16. Meskipun populer dikenal sebagai kekuatan regional di Afrika Timur, Ajuran Sultanate juga memiliki pengaruh signifikan dalam melindungi jalur perdagangan dan kota suci Makkah.
Ajuran Sultanate, yang berdiri sejak abad ke-13 hingga awal modern, merupakan kerajaan Muslim dengan administrasi terpusat dan kekuatan militer yang tangguh. Mereka dikenal sebagai satu-satunya “hydraulic empire” Afrika, yang menguasai sistem irigasi dan pertanian secara terorganisir, sekaligus mempertahankan kedaulatan dari serangan luar.
Dalam catatan sejarah konflik Portugis-Somalia, pasukan Ajuran terlibat langsung menghadapi ekspedisi Portugis yang berupaya menguasai pelabuhan dan jalur perdagangan strategis di Laut Merah. Aksi mereka juga dikaitkan dengan perlindungan terhadap Makkah dan Madinah dari potensi serangan luar.
Pada masa itu, Makkah sendiri berada di bawah kekuasaan Ottoman, setelah mengalahkan pengaruh Mamluk di wilayah Hijaz. Pengaruh Ottoman memperkuat keamanan kota suci sekaligus memastikan kontinuitas pemerintahan Islam di Arab Saudi bagian barat.
Kehadiran pasukan Somalia dianggap sebagai dukungan tambahan bagi Ottoman. Mereka menghadang armada Portugis yang berusaha menekan wilayah laut strategis untuk mengganggu perdagangan dan jalur haji dari Afrika Timur ke Makkah.
Meski catatan langsung tentang pertempuran di Makkah masih terbatas, sumber sejarah menunjukkan bahwa pasukan Ajuran melakukan operasi militer di wilayah pesisir dan interior Arab Selatan, yang secara tidak langsung mengamankan jalur menuju kota suci.
Beberapa kronik menyebutkan adanya makam prajurit Portugis di sekitar wilayah Makkah, meskipun lokasi pastinya masih kontroversial. Diperkirakan makam-makam ini berada di tempat-tempat terpencil dan tidak menjadi situs resmi atau dikenal luas oleh masyarakat lokal.
Konflik ini bukan hanya soal wilayah, melainkan juga soal kontrol perdagangan rempah, emas, dan jalur haji dari Afrika Timur. Portugis ingin memonopoli jalur ini, sementara pasukan Ajuran berperan sebagai perisai bagi kepentingan Ottoman dan masyarakat Muslim setempat.
Selain menghadapi Portugis, Ajuran Sultanate juga dikenal melawan invasi Oromo dari barat. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan militer Somalia tidak hanya bersifat lokal, tetapi memiliki cakupan strategis yang luas di kawasan Timur Afrika dan Laut Merah.
Kekuatan Ajuran didukung oleh sistem administrasi yang terpusat, di mana sultan berperan sebagai komandan tertinggi. Struktur ini memungkinkan pasukan bergerak cepat dan efisien dalam menghadapi ancaman dari berbagai arah.
Hubungan antara Ajuran dan Ottoman kemungkinan bersifat aliansi pragmatis. Pasukan Somalia diberi ruang untuk bergerak di wilayah Arab Selatan sebagai bagian dari dukungan terhadap penguasa Ottoman dalam menjaga keamanan jalur haji dan kota suci.
Dalam berbagai kronik lokal Somalia, perlawanan terhadap Portugis dipandang sebagai prestasi besar. Mereka tidak hanya melindungi tanah airnya sendiri, tetapi juga menjaga kepentingan umat Islam secara lebih luas.
Beberapa peneliti mencatat bahwa meski Ajuran bukan penguasa langsung Makkah, peran mereka cukup strategis. Kehadiran pasukan dari Afrika Timur menjadi faktor penghalang bagi Portugis sebelum mereka bisa menembus jalur Ottoman di Hijaz.
Portugis, dengan armada lautnya, sering dianggap ancaman global bagi wilayah Muslim pada abad ke-16. Mereka ingin menguasai pelabuhan strategis dan memutus jalur perdagangan, namun perlawanan pasukan lokal membuat ekspedisi mereka gagal mencapai tujuan utama.
Makam-makam Portugis yang disebut di seputar Makkah kemungkinan berasal dari ekspedisi yang gagal atau gugur dalam pertempuran kecil. Ini menjadi bukti nyata bahwa konflik memang terjadi, meskipun tidak tercatat secara rinci di arsip resmi Ottoman.
Pasukan Ajuran juga dikenal menggunakan taktik gerilya di pesisir dan jalur perdagangan. Mobilitas tinggi mereka membuat Portugis kesulitan untuk menaklukkan wilayah yang luas dan strategis tersebut.
Konflik ini menegaskan bahwa Afrika Timur dan Arab Selatan memiliki hubungan keamanan yang erat. Pasukan Somalia, meski jauh dari tanah kelahiran, menunjukkan solidaritas terhadap kepentingan Islam secara regional.
Keberhasilan mereka menghadang Portugis juga menambah reputasi Ajuran Sultanate sebagai kekuatan militer yang disegani di Timur Afrika dan Laut Merah. Kekayaan dan organisasi mereka memungkinkan mereka menanggung biaya perang dalam waktu lama.
Sejarah ini menekankan bahwa Makkah, meski di bawah kontrol Ottoman, mendapat perlindungan dari pasukan luar yang setia terhadap Islam. Dukungan Ajuran menjadi bagian dari strategi regional untuk menjaga kota suci tetap aman.
Dengan demikian, legenda tentang pasukan Somalia yang menghalau Portugis bukan sekadar mitos. Ada dasar sejarah yang kuat, meskipun rinciannya masih perlu penelitian lebih lanjut. Makam Portugis di Makkah menjadi simbol nyata dari perlawanan ini dan bukti bahwa ajaran Islam dan solidaritas regional berperan besar dalam mempertahankan kota suci.
Kejayaan Somalia Diingat Kembali
Sejarah kejayaan Somalia kembali mencuat ketika Israel secara resmi mengakui Somaliland, wilayah yang memisahkan diri dari Somalia sejak awal 1990-an. Pengakuan ini menimbulkan reaksi dari pemerintah Somalia di Mogadishu, yang menegaskan kedaulatan mereka dan menolak legitimasi pemisahan tersebut. Namun, momentum ini sekaligus membuat masyarakat dan pengamat internasional mengingat kembali masa-masa gemilang Kesultanan Ajuran dan kekuatan Somalia di Afrika Timur.
Kesultanan Ajuran dikenal sebagai kekuatan militer dan ekonomi yang tangguh, mampu menahan invasi Portugis, mengatur sistem irigasi kompleks, dan menguasai jalur perdagangan regional. Keberhasilan ini menegaskan bahwa wilayah Somalia pada masa lampau bukan hanya sekadar titik geografis di Tanduk Afrika, melainkan pusat peradaban yang dihormati dan disegani.
Banyak pihak menekankan bahwa meremehkan Somalia saat ini tidaklah bijak. Meskipun negara menghadapi tantangan politik dan ekonomi, sejarah panjang kejayaan militer dan administrasi pusat menunjukkan potensi yang luar biasa dan kemampuan untuk memobilisasi masyarakatnya ketika diperlukan.
Pengakuan internasional terhadap Somaliland, meski kontroversial, memicu diskusi tentang identitas dan warisan Somalia. Kejayaan masa lalu menjadi simbol kebanggaan nasional dan bukti bahwa bangsa ini pernah menjadi pemain utama di kancah regional dan internasional.
Dengan demikian, peristiwa politik kontemporer ini memunculkan refleksi sejarah, mengingatkan dunia bahwa Somalia memiliki akar budaya dan politik yang agung. Masa lalu yang gemilang menjadi alasan kuat bagi bangsa Somalia untuk menuntut penghormatan, legitimasi, dan posisi strategis di kawasan Tanduk Afrika.






Posting Komentar