Top Menu

Jumlah Pasukan yang Dibutuhkan SAF Sudan untuk Ambil Alih Darfur dari RSF

Operasi militer untuk merebut Darfur dari kendali Rapid Support Forces (RSF) dipandang sebagai tantangan paling berat yang dihadapi Sudanese Armed Forces (SAF) sejak perang saudara meletus. Tidak seperti perebutan Khartoum yang bersifat simbolik dan terpusat, Darfur adalah wilayah luas dengan kompleksitas sosial, geografis, dan militer yang jauh lebih rumit.

Darfur membentang hampir setengah juta kilometer persegi, lebih luas dari banyak negara di Eropa. Wilayah ini terdiri dari gurun, savana, serta desa-desa terpencar yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut menjadikannya medan ideal bagi pasukan yang mengandalkan mobilitas tinggi seperti RSF.

RSF memiliki akar kuat di Darfur, baik secara historis maupun sosial. Banyak pejuang RSF berasal dari wilayah ini, memiliki dukungan jaringan tribal, serta menguasai jalur logistik lintas perbatasan menuju Chad, Libya, dan Republik Afrika Tengah. Hal ini memberikan keunggulan bertahan yang signifikan.

Perkiraan analis militer menunjukkan RSF memiliki sekitar 40.000 hingga 70.000 pejuang aktif di Darfur. Jumlah tersebut belum termasuk milisi lokal pendukung dan simpatisan bersenjata yang dapat digerakkan sewaktu-waktu. Struktur RSF yang cair membuat kekuatan ini sulit dipetakan secara pasti.

Dalam doktrin militer klasik, pasukan penyerang membutuhkan keunggulan jumlah setidaknya tiga kali lipat dari pihak bertahan. Untuk operasi kontra-pemberontakan di wilayah luas seperti Darfur, rasio tersebut sering meningkat hingga lima atau bahkan sepuluh banding satu.

Berdasarkan perhitungan tersebut, SAF diperkirakan memerlukan sedikitnya 150.000 personel untuk melancarkan operasi besar di Darfur. Angka ini dipandang sebagai batas minimal, dengan risiko tinggi operasi berlarut-larut tanpa kemenangan menentukan.

Dengan kekuatan sekitar 150.000 pasukan, SAF hanya mampu merebut beberapa kota utama tanpa menjamin stabilitas jangka panjang. RSF masih dapat bertahan di pedalaman, melakukan serangan gerilya, serta mengganggu jalur suplai militer.

Skenario yang lebih realistis menempatkan kebutuhan SAF di kisaran 200.000 hingga 250.000 personel. Kekuatan sebesar ini memungkinkan pembagian pasukan ke dalam unit tempur, cadangan rotasi, serta unsur logistik dan medis yang memadai.

Dalam skema tersebut, SAF dapat mengamankan kota-kota strategis seperti El Fasher, Nyala, dan El Geneina secara simultan. Selain itu, operasi pemutusan jalur suplai lintas perbatasan RSF dapat dilakukan lebih efektif.

Namun bahkan dengan 250.000 personel, tantangan tidak otomatis berakhir. RSF dikenal mampu beradaptasi, berpindah medan, dan memanfaatkan konflik lokal untuk mempertahankan pengaruhnya. Keberhasilan militer tetap bergantung pada konsistensi operasi dan pengamanan wilayah pasca-penaklukan.

Untuk kontrol penuh Darfur, sejumlah analis menyebut SAF memerlukan lebih dari 300.000 personel. Jumlah ini setara dengan operasi pendudukan jangka panjang di wilayah konflik besar seperti Irak atau Afghanistan.

Kekuatan sebesar itu memungkinkan SAF tidak hanya menaklukkan wilayah, tetapi juga menjaga keamanan desa, melindungi jalur perdagangan, serta mencegah kebangkitan kembali RSF. Namun, biaya ekonomi dan politik dari opsi ini dinilai sangat tinggi.

SAF sendiri menghadapi keterbatasan serius. Meski secara nominal memiliki ratusan ribu personel, tidak semuanya siap tempur atau bisa dipindahkan ke Darfur. Banyak unit harus tetap menjaga wilayah vital lain seperti Port Sudan, Nil Biru, dan Kordofan.

Masalah logistik menjadi kendala utama. Menggelar pasukan besar di Darfur membutuhkan suplai bahan bakar, amunisi, makanan, dan perawatan medis dalam skala masif. Jalur suplai ini rentan diserang oleh unit RSF yang bergerak cepat.

Selain itu, operasi militer besar berisiko memicu krisis kemanusiaan yang lebih parah. Darfur sudah lama menjadi wilayah sensitif dengan sejarah konflik etnis dan pengungsian massal.

Karena itu, banyak pengamat menilai bahwa kemenangan militer murni SAF di Darfur sangat sulit dicapai. Tanpa perpecahan internal RSF atau kesepakatan politik, perang berpotensi berlangsung dalam waktu lama.

Pendekatan yang lebih mungkin adalah kombinasi tekanan militer, pemutusan sumber pendanaan RSF, serta negosiasi dengan faksi-faksi lokal. Strategi ini dinilai lebih realistis dibandingkan operasi penaklukan total.

Peran negara-negara tetangga dan kekuatan regional juga menjadi faktor penentu. Selama jalur lintas batas tetap terbuka bagi RSF, upaya SAF akan selalu menghadapi hambatan struktural.

Dengan demikian, pertanyaan tentang “berapa pasukan yang dibutuhkan” tidak sekadar soal angka. Ini menyangkut kapasitas negara Sudan sendiri dalam menopang perang besar di wilayah terluas dan paling rapuh secara sosial.

Pada akhirnya, Darfur menjadi ujian nyata bagi SAF: apakah mampu mengubah keunggulan militer menjadi stabilitas politik, atau justru terperangkap dalam konflik berkepanjangan yang menguras negara.

Share this:

 
Designed By OddThemes | Distributed By Gooyaabi Templates